Seminar Nasional Indikasi Geografis 2024 dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Kreativitas dan inovasi merupakan salah satu kunci dalam pengembangan suatu produk agar tetap mampu bertahan ditengah persaingan usaha yang semakin kompetitif. Upaya untuk melindungi setiap kreativitas manusia sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal adalah melalui perlindungan Indikasi Geografis (IG) sebagai salah satu bentuk hak atas kekayaan intelektual. IG adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan. Contoh produk yang telah memiliki perlindungan IG antara lain Gula Kelapa Kulon Progo, Salak Pondoh Sleman, Batik Nitik Yogyakarta, dan Gerabah Kasongan. Dari contoh tersebut dapat dikategorikan bahwa obyek perlindungan IG meliputi produk industri, kerajinan, dan sumber daya alam.

Dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap perlindungan Indikasi Geografis bagi potensi lokal sekaligus mendorong komersialisasi terhadap IG yang telah terdaftar, Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian RI menyelenggarkan Seminar Nasional Indikasi Geografis dengan tema Peran IG dalam Pemberdayaan Ekonomi Lokal Menuju Pasar Global pada tanggal 24 April 2024 bertempat di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu dukungan terhadap Hari Kekayaan Intektual Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 April. Setelah seminar juga akan dilanjutkan dengan workshop penyusunan dokumen deskripsi IG bagi fasilitator kekayaan intelektual tingkat lanjut pada tanggal 25-26 April 2024 bertempat di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta.

Seminar dibuka oleh Dirjen IKMA Ibu Reni Yanita, M.Si yang dalam sambutannya menyampaikan harapan agar semakin banyak produk industri yang mendapatkan pengakuan IG nya karena pemerintah menyadari semakin besarnya peran HKI terhadap daya saing industri. Oleh karena itu beliau menginginkan agar peserta workshop nantinya dapat mengidentifikasi potensi-potensi IG di daerah masing-masing sekaligus menginisiasi tersusunnya dokumen deskripsi sebagai salah satu syarat pengajuan perlindungan IG. Kemenperin melalui Ditjen IKMA akan memfasilitasi pendaftaran IG tersebut sekaligus membantu mengkoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.

Narasumber yang hadir terdiri dari Eripson SH Sinaga (Asisten Deputi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Kewirausahaan Kemenko Bidang Perekonomian), Tri Saktiyana (Asisten Daerah DIY bidang Perekonomian), Irma Mariana (Kemenkumhan RI), Awang Maharijaya (Tim Ahli IG), Nurmala Martin (ahli pemasaran dan branding), dan I Wayan Indra Mahendra (MPIG Garam Amed Bali). Peserta terdiri dari perwakilan kementerian terkait, perwakilan pemerintah daerah, beberapa MPIG di Indonesia, dan media. Peserta mengikuti dengan antusias mengingat pemahaman terhadap pentingnya peran indikasi geografis akan mampu meningkatkan kemandirian lokal, meningkatkan daya saing produk, dan mendukung keberlanjutan lingkungan (iai).